My Lovely Werewolf
My Lovely Werewolf
Story by mocael
Genre: Fantasy, Werewolf
.
.
.
“A..apa yang kau lakukan?!”
Sosok pemuda berambut hitam itu hanya mendekati gadis serigala di depannya dengan santai. Ia tidak merasa sedikit pun bersalah dengan apa yang telah ia lakukan pada makhluk itu.
“Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan,” ucapnya dengan masih memandang Crystal yang terduduk sambil menunduk.
Gadis pemilik bola mata shapphire itu berdiri. Ia memandang Klein. Ia menatap bola mata onyx di hadapannya itu dengan tajam.
“Aku... akan membunuhmu!” Setelah mengucapkan itu, Crystal langsung pergi. Ia berlari meninggalkan manusia yang telah mengambil sesuatu yang berharga baginya itu.
Klein mengangkat tangan kanannya lalu ia kepalkan sampai kuku jarinya memutih.
“...”
***
Crystal merupakan werewolf yang sedang berkeliaran di kota Brighton. Ia hidup di tengah-tengah banyaknya manusia. Gadis berambut pirang itu sudah sebatangkara sejak ia masih kecil. Kedua orang tuanya meninggal karena melindungi dirinya dari pembantaian packnya. Tidak ada yang tersisa kecuali dirinya.
Crystal berhasil menyembunyikan dirinya dari para pembantai dan selamat. Oleh karena itu, Cristal sangat berhati-hati pada semua hal di sekitarnya dan ia juga mencoba menyembunyikan jati dirinya sebagai seorang werewolf.
Akan tetapi Crystal lengah ketika ia bertemu dengan seseorang yang hampir saja ia percayai, Klein. Orang itu dengan sengaja telah merebut sesuatu yang sangat berharga bagi Crystal. Kekuatannya.
Hunter. Itulah yang dipikirkan oleh Crystal ketika Klein mengambil kekuatan yang dimilikinya. Crystal menduga bahwa bukan hanya dirinya yang sudah diambil kekuatannya oleh hunter itu.
Klein menipu Crystal dan kemudian mengambil kekuatan werewolf milik gadis itu. Hal itu mengakibatkan Crystal tidak bisa menggunakan kekuatannya lagi seperti sebelumnya. Walaupun ia masih bisa berubah menjadi serigala, namun tiga perempat kekuatannya hilang. Jika ada werewolf lain yang membenci Crystal maka sangatlah mudah untuk membunuh gadis itu.
“Kau tidak apa-apa, Crystal? Kau terlihat lelah.”
Crystal menoleh ke arah sosok pria paruh baya yang baru saja menepuk bahunya dari belakang itu.
“Aku tidak apa-apa, Paman Keanu.” Crystal tersenyum.
Sosok itu adalah Keanu. Seorang pemilik Cafépasta yang terkenal di kota itu. Pasta First, itulah nama Café tersebut. Keanu mengangkat Crystal sebagai anak ketika ia menemukan gadis itu tiga belas tahun yang lalu. Waktu itu Keanu menemukan Crystal kecil dengan tatapan kosong dan dingin. Ia pun iba dan mengambil Crystal.
Keanu juga memiliki putri yang cantik bernama Julie. Putri kandungnya itu sekarang sedang mengenyam pendidikannya di bangku kuliah. Jadi gadis itu jarang terlihat di Café pasta ayahnya.
Crystal sudah dianggap sebagai anak kandung di keluarga itu. Gadis itu luluh pada ketulusan Keanu yang merawatnya, sehingga dirinya mulai membuka diri dan tidak bersikap dingin lagi. Crystal sendiri juga sudah menganggap Keanu sebagai ayahnya dan Julie sebagai kakaknya.
“Kau terlihat tidak baik-baik saja, Crystal. Lebih baik kau istirahat saja,” ujar Keanu.
Crystal menggeleng, “Tidak, paman. Sebentar lagi jam makan siang dan Cafe ini pasti akan penuh. Lagipula kak Julie juga sedang kuliah, kan?” timpal Crystal yang menolak untuk beristirahat.
Keanu pun menyerah. Ia tahu kalau Crystal sudah seperti itu, maka ia pun tidak bisa menolaknya.
“Baiklah, tapi setelah jam makan siang kau harus pergi ke kamarmu dan istirahat, Crystal.”
“Oke, paman.”
Benar saja. Ketika jam makan siang banyak pengunjung yang berdatangan ke Café tersebut.
“Crystal, tolong antarkan pesanan ke meja nomor sepuluh,” pinta Keanu pada Crystal.
“Oke.” Sepiring Pasta dibawakan oleh Crystal dengan nampan di tangannya.
“Silakan Pasta pesanan anda,” ucap gadis berambut pirang itu sambil menaruh piring Pasta. “Silakan menikmaー KAU?!” jerit Crystal saat melihat siapa orang ia antarkan Pasta itu.
“Silakan Pasta pesanan anda,” ucap gadis berambut pirang itu sambil menaruh piring Pasta. “Silakan menikmaー KAU?!” jerit Crystal saat melihat siapa orang ia antarkan Pasta itu.
Semua mata menoleh ke arah Crystal sekarang, termasuk Keanu yang menatapnya dengan wajah bingung.
“Maaf.” Ia tersenyum pada orang-orang di sana. Orang-orang pun mulai kembali ke dunia mereka masing-masing. Crystal menatap pemda di depannya dengan menahan emosi.
“Dengar, aku tidak akan membiarkanmu lolos setelah ini.” Crystal memberikan tatapan tajamnya pada Klein. Klein tidak menghiraukan gadis pirang di depannya. Ia malah mamasang wajah tanpa ekspresi.
“Apa yang kau inginkan dariku? Lebih baik kau layani pembelimu yang lain. Mereka menunggu,” ucap Klein dengan santai.
Crystal pun tersadar jika sekarang pamannya sedang kerepotan dengan pelanggannya sekarang.
“Ck! Gawat! Dengar, aku tidak akan melepaskanmu!” Karena takut dimarahi, ia pun langsung menghampiri Keanu.
Klein mengambil alat makannya dan mulai menyantap Pastanya. Ia mengamati Pasta itu. Sesuai permintaannya.
Pengunjung sudah mulai sepi karena jam makan siang sudah hampir habis. Crystal membereskan meja-meja yang sudah selesai digunakan. Gadis itu memandang ke arah meja nomor sepuluh. Orang itu belum pergi.
“Crystal, kau bisa istirahat. Biar paman saja yang menyelesaikan ini.” Keanu memberi isyarat agar gadis itu berhenti melakukan pekerjaannya.
“Baiklah, paman, tapi aku ada urusan sebentar.” Mata Crystal mengekori sosok pemuda yang kini meninggalkan mejanya. Crystal mengikuti Klein. Ia menarik jaket yang dikenakan oleh pemuda itu.
“Aku sudah bilang kan tidak akan membiarkanmu pergi,” ucap Crystal dengan penuh emosi.
Klein kini menatap Crystal. Gadis pemilik blue sapphire itu langsung mundur ketika ia meraskan sesuatu dari lelaki di hadapannya.
“Kenapa kau mundur? Tunggu, namamu… ah, Crystal?”
‘Sial! Ada apa dengan aura di sekirarnya? Itu membuat perasaanku tidak enak,’ batin Crystal kesal.
“Kau telah kehilangan sebagian kekuatanmu kalau kau lupa. Jadi bisakah kau jangan menggangguku?”
“Kenapa?” Crystal mengepalkan tangannya dengan kencang sampai kukunya memutih.
“Hm?”
“Kenapa kau melakukan itu? Kekuatanku, itu adalah satu-satunya yang kumiliki untuk bertahan hidup! Brengsek!” Crystal berteriak lagi pada pemuda itu.
Klein mendekati Crystal yang masih mengepalkan kedua tangannya. Crystal yang menyadari itu langsung mundur.
“Bukankah kau ingin membunuhku? Kenapa mundur?”
Crystal sendiri juga bingung kenapa ia malah mundur.
‘Aku tidak suka aura yang ia keluarkan,’ kata Rin dari dalam tubuh Crystal. Rin adalah serigala milik gadis itu yang bersemayam di tubuhnya.
‘Hei jadi kau takut?’ tantang Crystal pada wolfnya.
BUGH
Punggung Crystal menabrak pohon karena terlalu jauh mundur.
‘Sial!’ umpat Crystal dalam hati.
“Dengar, kakuatanmu itu berbahaya bagi kami para manusia. Masih untung aku tidak membunuhmu.” Klein mengatakannya dengan penuh penekanan.
“Sialaannnn!” Crystal mengeluarkan kuku-kuku panjangnya untuk menyerang Klein.
Klein tersenyum tipis dan dengan cepat ia menghindari serangan Crystal. Klein membalikkan keadaan dengan mengunci tangan Crystal ke belakang dengan menindih tubuh gadis yang membelakanginya itu.
Klein tersenyum tipis dan dengan cepat ia menghindari serangan Crystal. Klein membalikkan keadaan dengan mengunci tangan Crystal ke belakang dengan menindih tubuh gadis yang membelakanginya itu.
“Jadi hanya ini saja yang bisa kau lakukan?”
“Ugh.. kau curang! Kembalikan kekuatanku dan kita bertarung dengan adil! Kau pengecut kurang ajar!” Crystal mencoba berontak namun tidak bisa.
Klein langsung membalikkan tubuh Crystal hingga berbaring menghadapnya.
Klein langsung membalikkan tubuh Crystal hingga berbaring menghadapnya.
‘Crystal kau harus melawannya. Ia hanyalah manusia.’ Rin yang kesal pun memerintahkan Crystal untuk melawan.
‘Kau hanya bicara saja... ini tidak mudah.’ balas Crystal.
“Sedang berkomunikasi dengan serigalamu, huh?” Tentu saja Klein menyadari itu karena bola mata Crystal yang berubah-ubah dari biru mejadi kuning.
“Lepaskan aku! Aku akan membuー" Crystal membelalakkan matanya ketika ia tahu apa yang dilakukan oleh pemuda itu padanya. Klein menciumnya.
“Coba bunuh aku kalau kau bisa, manis.” Klein pun bangkit meningalkan Crystal yang masih terdiam untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Wajahnya benar-benar memerah antara malu, marah, dan juga kesal yang menjadi satu.
‘Crystal, dia...’
“Diam Rin!! Dia itu membuatku kesal! Sial!!” Crystal membentak Rin sambil mengacak-acak rambut pirangnya.
‘Tapi Crystal dia itu...’
“Rin kau diam saja!’ potong Crystal dengan membentaknya lagi dan serigalanya itu pun langsung diam.
***
“Kak Julie, kau terlihat senang sejak pagi. Ahh... pasti karena lelaki yang datang tempo hari ya,” ledek Crystal.
“Kau sok tau Crystal.” Lalu Julie pun tertawa.
Kelihatan sekali jika memang Julie sedang senang. Wajahnya memperlihatkan itu dan tentu saja Crystal menyadarinya.
“Kak Julie, jangan membawa belanjaanmu seperti itu, nanti kalau terjatuh bisa repot.” Crystal memperingati.
Julie melihat ke arah belanjannya, “Ah maaf, maaf.”
“Huh, dasar orang yang sedang jatuh cinta memang berbeda ya,” ledek Crystal lagi dan kali ini ia mendapat lemparan sayuran dari kakak angkatnya itu.
Crystal menangkap sayuran itu dan menjulurkan lidahnya. Mereka pun tertawa dan melanjutkan perjalanan untuk pulang dan menaruh hasil belanjaan mereka dari pasar.
Sudah sebulan sejak kejadian Klein menciumnya tiba-tiba dan sialnya ia malah jadi sering sekali bertemu dengan lelaki yang ia benci itu. Klein seperti dengan sengaja datang ke First Café untuk meledek Crystal yang tidak bisa melakukan apa-apa padanya. Dan itu membuat Crystal sangat kesal.
Crystal berhenti melangkah.
“Ada apa Crystal?” tanya Julie yang berada lima langkah di depannya.
“Apa kak Julie tidak mendengar sesuatu?” Tanya Crystal yang masih fokus mendegar suara yang didengarnya.
“Aku tidak mendengar apa pun.” Gadis itu menatap heran Crystal. “Itu perasaanmu saja Crystal. Ayo kita harus cepat pulang,” ucapnya lagi.
“Oke.”
Mereka pun melanjutkan jalan mereka yang sempat terhenti. Namun...
“Ah, bisa kau bawa ini, kak? Sudah dekat juga kan? Aku ingin ke suatu tempat dulu, oke?”
Crystal langsung pergi setelah memberikan belanjaan yang dipegangnya tanpa menunggu Julie berbicara. Gadis itu pun hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Crystal yang seperti itu.
Crystal berlari menuju tempat yang tadi ia sempat mendengar sesuatu di sana. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi di tempat itu.
Terdengar seseorang sedang tertawa.
“Kau tahu bagaimana perasaan kami saat kau membunuh kaum kami, huh?”
BUGHH
“Rasakan ini!”
BUGHH
Crystal yang baru saja sampai membelalakkan matanya melihat pemandangan yang baru saja ditemuinya.
“Hentikan!”
Crystal sudah berada di tengah-tengah mereka.
“Hah?” Kata salah satu sosok yang mengeroyok korbannya tersebut.
“Apa yang kalian lakukan?” Crystal menatap satu persatu orang di hadapannya.
“Kau tidak perlu ikut campur. Pergilah!” ucap salah seorang berambut coklat.
Crystal melihat ke belakangnya. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi di sini. Yang sangat ia tidak percaya adalah kenapa Klein bisa dengan mudah dikalahkan oleh para werewolf di hadapannya.
“Uhuk... pergilah Crystal... aku tidak butuh bantuanmu…” Klein pun terbatuk mengeluarkan darah dari mulutnya.
Bola mata Crystal langsung menguning melihat pemandangan itu.
Bola mata Crystal langsung menguning melihat pemandangan itu.
“Apa yang kalian lakukan, hah??” Kini Rin mengambil alih tubuh Crystal.
“Kau itu werewolf juga. Sama seperti kami dan seharusnya kau ada di pihak kami! Kenapa membelanya? Apa kau tidak tahu siapa dia?”
Rin diam tidak menjawab sedangkan Crystal hanya melihat dari dalam dirinya.
“Kalian semua berisik!” Rin marah. Itulah yang terlihat saat ini.
Klein menggapai tangan gadis yang berada di depannya. Ia menatap bola mata kuning itu dengan bola mata onyx miliknya.
“Pergilah... kau tidak akan... uhuk.. menang untuk... melawan mereka!” Klein mencoba menghalangi. “Bukankah... kau... juga berniat... membunuhku? Uhuk... Jadi ini kesempatanmu…” Klein terbatuk lagi lalu tersenyum kecil pada Crystal.
“Tutup mulutmu, Klein! Aku akan membunuh mereka sekarang!” Klein tersentak ketika namanya disebut. Sudah sejak Klein mengambil kekuatan milik Crystal, ia tidak pernah mendengar gadis itu memanggil namanya lagi. Walaupun Klein tahu jika yang memanggilnya adalah wolf Crystal, namun ia juga memahami jika Crystal dan wolf di dalam tubuh gadis itu adalah satu kesatuan.
Crystal menyerang werewolf di hadapannya. Klein sedikit terkejut ketika melihat kekuatan Crystal yang ternyata masih bisa dibilang kuat walau sepertiga kekuatannya telah hilang.
“Ck! Kau kuat juga ya, anak pirang!”
Crystal tidak memperdulikan perkataan musuhnya saat ini.
Crystal tidak memperdulikan perkataan musuhnya saat ini.
BUAAGHH
Crystal berhasil mementalkan salah satu lagi dari mereka. Namun ia juga mendapat serangan dari teman mereka sehingga mengakibatkan Crystal terlempar walau tidak terlalu jauh.
Crystal membalikkan badannya. Ia membelalakkan matanya ketika melihat salah satu werewolf itu mengeluarkan kuku panjangnya dan kuku itu sedang bertengger di dada Klein sekarang.
“Apa manusia ini sebegitu berharganya untukmu, huh?” Kuku itu bergerak untuk mencakar Klein.
“Jangan... pedulikan... aku Crystal… pergi... lah...” tutur Klein dengan terbata.
Rambut Klein dijambak dengan kasar. “Diam, kau! Inilah akibatnya karena manusia sepertimu berurusan dengan kami.”
“Khh... kalian... uhuk beraninya main keroyok... uhuk dasar... pengecut!”
“Aaggghhhh!!!” Darah bercucuran dari dada Klein.
“BRENGSEK!!! KALIAN APAKAN MATEKU?? KUBUNUH KALIAN!!”
***
“Crystal, kau ingin ingin pergi lagi?”
Gadis yang merasa dipanggil pun menoleh pada orang yang memanggilnya lalu ia mengangguk.
“Iya. Aku harus ke suatu tempat.” Crystal tersenyum pada gadis yang berdiri di Cafe Pasta keluarganya itu. Namun Julie bisa melihat ada sorot kesedihan di mata adik angkatnya.
Julie menghela napasnya, “Baiklah… kau harus berhati-hati, ya.” Crystal mengangguk lagi.
“Ah, tunggu...”
“Kenapa lagi, Kak Julie?” Dengan malas Crystal membalikkan badannya.
“Aku tidak tahu apa yang sekarang sedang mengganggu pikiranmu, tapi kau tidak bisa menipuku dengan senyumanmu yang seperti itu, Crystal. Jadi, yang ingin kukatakan adalah… kita ini keluarga. Jangan kau pendam semua kesusahanmu sendiri, Crystal. Untuk itulah aku dan ayah ada, kan?”
Crystal melebarkan bola matanya mendengar kalimat panjang dari kakak angkatnya itu. Ia tidak tahu ternyata dirinya sudah membuat Julie dan Keanu khawatir dengan sikapnya akhir-akhir ini.
Crystal tersenyum. Kali ini ia tersenyum dengan sangat tulus.
Crystal tersenyum. Kali ini ia tersenyum dengan sangat tulus.
“Terima kasih, Kak Julie.”
Crystal pun pergi dari Cafe Pasta itu menuju ke suatu tempat yang akhir-akhir ini ia datangi.
***
Di dalam kamar dengan lampu redup terbaring seorang pemuda dengan napas yang teratur. Pemuda berambut hitam itu terbangun dari masa komanya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali.
“Kau... sudah bangun??” tanya gadis yang baru saja masuk ke kamar itu. Terlihat ekspresi senang di wajah Crystal ketika melihat orang yang ia tunggu sudah terbangun dari komanya.
Klein masih diam memperhatikan gadis itu. Crystal membawa air mineral dan beberapa buah lalu ditaruhya pada meja kecil di samping kasur.
“Uhh… jika kau bertanya kenapa kau ada di kamarmu, itu karena aku tidak mungkin membawamu ke rumahku. Aku juga sudah mengobati lukamu dengan sedikit kekuatanku. Maaf aku tidak membawamu ke rumah sakit karena aku tidak memiliki jaminan untuk itu… jadiー”
Klein memotong pembicaraan Crystal saat gadis berambut pirang itu sudah di samping ranjangnya dengan menggenggam tangan Crystal.
“Maaf, aku terlalu lemah sampai membuatmu terluka,” ucap Klein dengan suara yang parau.
“Bukankah kau sendiri yang sedang terluka?” Crystal mengernyitkan alisnya.
Klein tidak menjawab pertanyaan Crystal yang sudah jelas tanpa dijawab itu. Kini mereka sama-sama terdiam.
Klein tidak menjawab pertanyaan Crystal yang sudah jelas tanpa dijawab itu. Kini mereka sama-sama terdiam.
“Kenapa kau tidak membiarkanku mati saja? Kau juga menginginkan itu kan? Aku telah mengambil sesuatu yang berharga bagimu...”
Crystal masih diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Itu memang benar, tapi…
“Jawab, Crystal!” Klein meremas tangan Crystal yang masih dipegang olehnya.
“Aku...”
Klein mengambil pisau yang tergeletak pada piring buah.
“Kau mau apa?”
Klein menyerahkan pisau itu pada Crystal. Gadis berambut pirang itu bingung dengan maksud Klein dan ia hanya bisa diam sambil menatap pemuda itu dengan wajah bingungnya.
“Bunuh aku dengan tanganmu, Crystal,” ucapnya dan sontak kedua bola mata Crystal terbelalak mendengarnya.
GREBB
Crystal langsung memeluk tubuh Klein yang masih dililit perban. Pisau itu terjatuh. Kini giliran Klein yang membelalakkan bola matanya ketika mendapat perlakuan yang tidak terduga dari Crystal. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada gadis yang sedang memeluknya sekarang ini.
“Bagaimana bisa aku membunuh mateku sendiri, Klein?”
Klein langsung melepaskan pelukan Crystal dengan paksa setelah mendengar sesuatu yang mengganjal di telinganya.
“Apa maksudmu?” Klein menatap Crystal dengan serius.
“Kau adalah mateku, Klein.” Crystal menundukkan kepalanya tanpa mampu menatap bola mata onyx milik Klein.
Bukannya Klein tidak tahu apa itu ‘mate’ dalam kaum serigala. Dia sangat tau apa itu ‘mate’ walaupun dia adalah seorang manusia.
Bukannya Klein tidak tahu apa itu ‘mate’ dalam kaum serigala. Dia sangat tau apa itu ‘mate’ walaupun dia adalah seorang manusia.
“Sejak kapan?” Klein bersuara.
“A... apanya?” Crystal masih belum mau memandang Klein.
Klein menyentuh pipi Crystal dengan lembut lalu membawa wajahnya mendekat untuk menatapnya.
“Sejak kapan kau menyadarinya?”
“Jawab aku, Crystal,” ucapnya tepat di telinga gadis itu.
Lalu…
“Ugh... hentikan... kenapa kau malah menggigit telingaku?” protes Crystal.
“Cepat jawab, Crystal.” Entah mengapa suara Klein terdengar sangat menggoda di telinga Crystal saat ini.
“Sebenarnya, waktu itu Rin yang menyadarinya saat kau… menciumku,” suara Crystal terdegar sangat kecil di akhir.
Klein terdiam. Ia menatap Crystal yang wajahnya sudah memerah.
“Dan kau malah tidak menyadarinya?” tanyanya lagi.
"Dasar, payah." Crystal tidak protes dengan ucapan Klein. Gadis itu hanya mengangguk mengakui apa yang dikatakan oleh pemuda itu.
“Crystal,” panggil pemuda itu dan Crystal pun mendongak.
“Tapi... kau jahat, Klein. Kau mengambil kekuatanku. Kau membuatー” ucapan gadis itu terhenti.
Crystal membelalakkan matanya ketika Klein menempelkan bibir mereka berdua. Klein memagut singkat bibir gadis itu dan melepasnya lagi.
“Dengar… jika aku jahat, aku akan membunuhmu dan mengambil semua kekuatan milikmu. Kau tahu Crystal, semua werewolf yang kuambil kekuatanya pasti mati,” jelas Klein sembil memegangi kedua bahu Crystal, sementara gadis itu bergidik mendengarnya.
“Tapi... aku tidak membunuhmu. Sesuatu dalam diriku menolak untuk itu, Crystal.” Lanjutnya lagi.
Wajah Crystal sudah memerah dan terdapat air mata di sudut matanya. Crystal merasa ingin sekali menangis namun ia tidak bisa.
“Aku…”
Klein memotong apa yang ingin diucapkan Crystal dengan membungkam bibir gadis itu lagi. Bibir Klein sudah menempel lagi pada bibir gadis di hadapannya. Klein menarik kepala Crystal agar mendekat untuk memperdalam ciuman mereka.
Ciuman Klein turun pada leher Crystal dan membuatnya mengerang. Wolf dalam diri Crystal tidak menolak, malahan dia kegirangan dengan sentuhan matenya.
Napas Crystal sudah memburu. Ia tidak bisa menahan sesuatu dalam dirinya lagi.
Napas Crystal sudah memburu. Ia tidak bisa menahan sesuatu dalam dirinya lagi.
“Crystal… kau tidak ingin menandaiku sebagai matemu?” bisik Klein dengan seduktif pada telinga Crystal. Ia dengan sengaja menggoda gadis itu.
Wajah Crystal memerah. Ia memang ingin sekali menandai Klein, tapi Crystal tidak menyangka jika pemuda itu sendirilah yang menawarinya hal tersebut. Kali ini Crystal dengan agresif membalas cium pemuda di hadapannya. Crystal pun mengerang.
“Kau kalah, huh?” goda Klein. Crystal yang kesal pun mendorong Klein hingga ia terjatuh ke kasur.
“Aaggh!!”
Crystal baru menyadari ia terlalu kasar mendorong pemuda itu.
“Kau tidak apa, Klein?” tanyanya dengan panik.
Klein meringis merasakan sakit. “Kurasa lukaku masih belum benar-benar sembuh, Crystal.”
“Ma... maaf aku mendorongmu dengan kasar,” ucap Crystal dengan nada menyesal.
Klein mengelus pucuk kepala gadis itu. “Aku baik-baik saja, Crystal.”
“Tapi…”
“Bisakah kau buatkan aku sarapan? Aku lapar,” pinta Klein.
“Uhh, baiklah.” Crystal turun dari kasur lalu pergi ke dapur untuk membuatkan Klein makanan. Sementara Klein menggeram pelan di kamar sambil meringis memegangi lukanya.
“Sial! Kenapa aku harus terluka di saat seperti ini, sih? Seharusnya sekarang aku sudah bisa… aakkhh!!”
Klein frustasi sendiri menahan apa yang sebenarnya ia inginkan. Sementara di dapur Crystal melirik kamar Klein dengan tatapan horror.
“Apa lukanya sakit sekali sampai ia berteriak seperti itu?”
-END-
Komentar
Posting Komentar